Prolog Panas siang itu, seolah ajak emosi tuk memuncak dan bersorak. Panasnya sungguh benar-benar menguji mental dan fisik. Uh, kulihat penjaja minuman disana. Terbayang segarnya tenggorokanku oleh minuman itu. Uang terakhir di kantongku kuremas sambil menahan cucuran keringat di wajahku. Panasnya, uh sial, kulampiaskan saja semua rasa hati itu pada kaleng tak berdosa itu? Sejak kapan ada kaleng berdosa? HAHAHA..
Oiya, mungkin kalian belum mengenal siapa diriku. Perkenalkan,namaku...eh, ga usah deh...kalian ga perlu tahu siapa nama asliku, cukup panggil aku Awan. Itu nama panggilan yang kuinginkan. Mengapa "Awan"? Entah, dari kecil aku sangat suka dengan ornamen langit yang satu itu. Mungkin karena ia berada di langit, ditempat Sinyo berada (setidaknya itu kata ibuku dulu). Sinyo? Siapa lagi dia? Dia itu kucing kesayanganku. Saat aku berumur 6 tahun, Sinyo sakit lalu meninggal. Kata ibuku, Sinyo naik ke atas sana, ke negeri di balik awan, hihihi, mirip dengan lagu lama punya om Katon. Awan itu berada ditempat yang tinggi, kadang ia besar dan bergerombol, ada kalanya ia menjadi kecil dan terpisah. Ia bisa menjadi putih bersih dan menutupi panasnya siang dan bisa juga jadi hitam dan siap tuk turunkan hujan secepatnya. Awan itu laksana kepribadian diriku, kadang putih dan baik, tak jarang jadi hitam dan siap tuk berikan kilat tuk kejutkan pengangguku. Jadi panggil saja aku Awan ya?
OK, cukup tentang diriku,kita lanjut dengan ceritaku.
Kaleng tak berdosa itu terpelanting jauh, jauh, tapi lalu terhenti. Menyentuh sebuah kaki kecil yang menopang badan lusuh itu. Buatku bergidik saat melihatnya. Anak kecil itu hanya terdiam dan memainkan pasir di sela-sela jari kakinya yang tak beralas. Entah kenapa aku merasa iba dan mulai mendekat. Ia menyadari kedatanganku. Hanya tatapan kosong tanpa harap yang terlihat di mata kecil itu. Kembali ia tundukan kepalanya dan menggaruk-garuk tanah dengan kuku kakinya yang bahkan lebih kotor dari tanah itu sendiri. Tanpa berkata apa-apa, kurogoh kantung celana jins ku dan kuberikan ia selembar uang yang berhasil kutemukan. Selembar uang lima ribu rupiah. Ia hanya menatapku bingung, tapi sudut bibirnya terlihat sedikit tertarik dan mencoba tuk tersenyum, seolah tersenyum itu adalah sebuah kegiatan yang sangat berat dan seolah ada pisau yang melintang di lehernya dan membuatnya berpikir hanya tuk tersenyum. Uang itu kuletakkan di kaleng kosong yang berada di pangkuanya. Kulihat ada beberapa uang receh disana. Tanpa berkata sepatahpun, aku berdiri, dengan tak lupa sebelumnya aku membalas senyum kecut yang ia lemparkan tadi. Entah mengapa hati ini senang, walau uang terakhirku baru saja aku berikan pada seorang anak yang bahkan aku tak mengenalnya. Uang terakhirku? UANG TERAKHIRKU? Pikiranku langsung melayang dan memikirkan dua kata itu, "Uang terakhirku". Kucoba tuk mencari-cari hingga ujung kantongku, berharap ada keajaiban yang bisa menolongku untuk membeli minuman yang dari tadi aku idam-idamkan itu. Akhirnya aku sampai tetap di depan penjaja minuman itu dan terhenti sudah langkahku dengan tangan yang tetap merogoh kantongku. Sia-sia, tak kutemukan sedikitpun ujung-ujung kertas disana. Penjaja minuman itupun mulai menatapku bingung. Kutatap jauh ke belakang sana, melihat sosok kecil dekil yang masih setia terduduk di trotoar itu. Lebih baik aku yang kehausan dari pada dia. Toh, di rumahku nanti aku bisa minum. Tahan dikit ah.
Dengan langkah melayang ringan, kuayunkan kaki-kaki kurusku. Menuju rumah, walau ku tak tahu apa yang kan kuhadapi nanti di sana.  | Si Awan baik banget :D kata2nya bagus.. bisa jadi penulis ! |
 | rzyan wrote on Jun 10, '07 awan...si baik hati.... menarik yah... |
 | rzyan wrote on Jun 11, '07 wah......ada two side of awan yah?
|
Comment deleted at the request of the author.
 | awan gag seberuntung aq ternyata, roii.. aq sering ketemu uang gag terduga dikantong .. (Thanks God!) suruh awan kenalan ama aq dulu.. |
 |  so delightful |
| |